jump to navigation

Anak Tuhan? Desember 21, 2010

Posted by agusdd in lihat sekelilingku, pengalaman, wau......
trackback

Empat tahun berjibaku di Ibukota Negara ini makin membuat mataku terbuka lebar. Kini aku makin tahu bahwa untuk benar-benar bisa hidup dinegeri ini, semuanya tergantung pada diriku sendiri sebagai individu warga negara. Aku mau bekerja, kaya raya, menganggur atau bahkan sampai mati kelaparan pun sepertinya negara tak peduli. Aku merasa sendiri, tak ada yang memperhatikanku.

Negara si berdalih ada peraturan ini itu yang menjamin kehidupan rakyat orang miskin. Tapi buktinya, aku orang kecil yang nggak punya akses ini hanya bisa terlunta-lunta dijalan. Mengemis kadang dapat kadang tidak, sehari tak makan, kehujanan, kepanasan, tidur dikolong jembatan, itu semua dah biasa ku lakoni.

Tapi teriakan hati ini terjadi tak hanya pada diriku. Ada cukup banyak anak miskin papa yang turun menemaniku dipinggir jalan. Saat melihat mereka hatiku senang, meski perut ini sedang lapar. Perutku melilit, mataku ingin menangis, tapi aku harus terpaksa mentertawakan diri karena polah lucu dua anak yang lagi bermain didepanku ini.

Fly over Grogol di Ibukota ini, menjadi tempat naungan kami dari teriknya matahari. Udara panas membuat kami bertiga harus kegerahan. Kipas-kipas hanya itu yang bisa kami lakukan. Kadang kami bermimpi, kapan bisa merasakan sejuknya AC seperti yang dipromosikan di Billbord tepi jalanan itu.

“Hah, kami hanya mimpi,” ujarku dalam hati.

Siang menuju sore hari, sesuap nasipun belum kami telan. Mungkin hari ini adalah hari ketiga kami berpuasa. Uang hasil meminta-minta hanya ada Rp5000, tak cukup buat beli nasi siang ini. Kuputuskan, malam saja kami makan bertiga biar tidur bisa nyaman. Bagaimanapun, saya masih terus ucap alhamdulillah karena sehat.

Dalam hidup ini, dua anak kecil inilah yang selalu memberiku semangat. Tak peduli malu, aku mengemis dan meminta-minta. Disampingku mereka selalu menemani sambil membawa kocek-kocek terbuat dari tutup botol.

Sulung dan bontot, demikian mereka kupanggil. Sulung adalah anak tertua dari bontot. Jangankan asal, umurnya saja aku tak tahu. Mereka telah bersamaku kurang lebih 1,3 tahun. Mungkin mereka bersaudara, aku juga tidak tahu. Mereka kukenal begitu saja ditepi jalan sedang bermain. Kadang aku kasihan ketika mereka bertanya dimana mama papa mereka, saat itu aku tidak bisa jawab.

AKU HANYA BISA BILANG, KAMU ADALAH ANAK TUHAN NAK. TUHAN ITU AYAH DAN IBUMU. DIA ITU SI AJAIB, YANG BISA MEMELIHARA ANAK SEUMURAN MU UNTUK HIDUP MANDIRI.

Saat itulah mereka bahagia. Mereka begitu tersanjung dan menganggap diri mereka istimewa. Mereka tidak minder meski harus sering kali diejek, diremehkan dan disakiti oleh anak-anak lain yang lebih dewasa dan berada. Mereka juga dengan lapang dada menerima caci makian orang dewasa.

Anak umur tiga tahun, dibiarkan mencari makan sendiri tanpa orang tua. “Sadis atau kejam,” kataku tak tahu harus menyalahkan siapa.

Tapi karena punya orang tua ajaib, semangat itulah yang selalu membuat mereka bahagia. Meski harus memakan makanan yang dilempar dan kadang sudah tumpah ruah kejalan, dua anak itu tidak perduli. Tujuan mereka hanya satu, bisa terus hidup guna mencari si TUHAN. Mereka mau bertemu dan segera mengadu, bahwa banyak orang kejam didunia ini. Saat itulah mereka akan merasakan kepuasan dan keadilan atas perbuatan orang yang pada tidak tahu diri itu.

Melihat semangat mereka aku selalu takjub. Aku juga bersyukur karena beruntung orangtua yang melahirkanku termasuk mampu menyekolahkanku meski dengan biaya ngutang sana sini. Aku bisa tamat SD hingga kuliah meski itu hanya disekolah orang desa.

Tapi meski punya sedikit pengetahuan aku masih kurang beruntung. Sudah 4 tahun aku menganggur. Mungkin karena tidak berbakat kali ya. Tapi dengan pengetahuan itu, aku cukup tahu betapa hancurnya akhlak orang negeri ini. Jangankan mereka masih kecil, aku yang sudah berpengetahuan saja belum diterima dinegeri ini. Berasa bak orang asing, kami yang miskin ini dengan mudahnya disingkirkan dan tak bisa mendapat keadilan.

Ketika membaca koran-koran milik pedagang itu, aku selalu bertanya dimana pemerintah? Kenapa anak sekecil ini dibiarkan lapar? apakah mereka tidak tahu atau karena kami yang tidak tahu harus mengadu kemana.

Mereka yang notabene harus mengatur negeri ini sepertinya hanya menonton. Mereka itu seperti orang buta yang tak pernah tahu kondisi rakyatnya. Pemerintah kita begitu lumpuh, cacat dan tak manusiawi. Satu hal yang paling menyakitkan adalah mereka itu benar-benar menutup telinga.

“BUTAAAA….” teriakku dalam hati.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: