jump to navigation

Penipuan di Pool Damri Agustus 30, 2011

Posted by agusdd in lihat sekelilingku, pengalaman.
trackback

Buat teman-teman yang suka pulang ke Lampung tetap hati-hati. Jangan sampe, pas sampe di Lampung malem hari. Kenapa? Karena meski sudah berubah tatanan terminal Rajabasanya berikut premanisme yang ada, sekarang modus baru muncul.

Penipuan terbaru bahkan terlihat lebih sistematis. Meski anda berhadapan dengan petugas atau sosok yang bertampang petugas, jangan mudah percaya.

Dua kali gue tertipu, sebelumnya oleh petugas berbaju Departemen Perhubungan, kedua oleh petugas Damri. Sama-sama bertugas tapi keasliannya nggak tahu.

Cerita berawal saat saya mencari bus tujuan Metro. Disitulah mereka memanfaatkan peluang itu.

Maklum karena sudah terlanjur malam atau kepagian banyak penumpang yang khawatir dapet kendaraan atau tidak.

Dengan bantuan petugas itu, Anda pasti akan dapet, tapi sayangnya kocek Anda juga harus bertambah, dan pelayanannya tidak sesuai harapan.

Tahun lalu oleh petugas yang bertampak Dephub, karena tidak akrab dengan terminal yang baru ketika saya tanya bus tujuan Metro jawabnya “Ini bus terakhir”.

Lucunya setelah saya naik, ada orang yang menarik uang transportasi. Orang itu adalah orang yang sempat terlihat bercakap-cakap dengan petugas-petugas berbaju Dephub tadi. Ya karena saya tidak sendiri, saya ikut-ikut saja, uang saya serahkan. Ternyata begitu bus jalan, kami ditengah jalan tetap dimintai duit lagi, ketika kami tanyakan si kernet merasa tidak tahu menahu.

“Wah saya nggak kenal siapa itu, ya silahkan minta lagi sama yang tadi (petugas yang meminta-minta),” kata si kerenet.

Lain lagi pada bus yang sama, penumpang lain lebih aneh modusnya. Dengan — maaf gue sebut “preman” aj — petugas itu plus calo, si bapak-bapak yang polos itu dimintain duitnya sama preman tadi.

“pokoknya tenang aja, nanti kernetnya saya bilangin,” kata si preman. Lagi-lagi duit yang diminta tidak sedikit — tarif biasa 10rb ini si bapak diminta 15rb –. lebih mengherankan lagi, si kernet sepertinya memang sudah dibilangin ama preman tadi, tapi dalam tengah perjalanan tetap saja si bapak ditagih ama si kernet.

“saya kan tadi sudah bayar,” kata bapak tua itu.

“iya, tapi masih kurang. Bapak harus bayar lagi,” paksa di preman.

Setelah mengetahui ada modus penipuan, dan beberapa penumpang sadar, kami pun saling bercerita. Ada modus baru lain yang juga pernah dialami oleh penumpang yang.

Begitu penumpang naik, ada petugas kernet yang menarik ongkos sambil memberikan karcis. Tapi sungguh mengejutkan, karcis tadi tidak berlaku untuk simobil. Karena ditengah jalan para penumpang tetap ditagih ongkos.

Dalam mudik kali ini, penipuan lebih parah. Dulu setahu saya meski jam malam, di terminal Rajabasa tetap ada bus mangkal tujuan metro. Tapi sepi, karena itu kendaraan pribadi, bukan trayek. Selain riskan dan rawan, kalau sendiri memang agak menyeramkan karena kita tidak tahu akan diapakan oleh kelompok orang-orang yang tidak kita kenal itu.

Pada dasarnya, kondisi itulah yang harus dijauhi oleh para pemudik. Sehingga banyak yang memanfaatkan bus langsung seperti Putra Remaja, Rosalia Indah dan Damri. Makanya tidak heran bus-bus ini laku di Lampung.

Saya termasuk pelanggan ketiganya untuk berbagai jurusan. Tapi kali ini karena tiket mudik kehabisan, saya pun mengambil jurusan Damri Tanjung Karang. Bermodal nekad dan kepercayaan, saya berharap tidak tertipu lagi karena sudah banyak pengalaman.

Untuk memastikannya saya bertanya ke petugas Damri tentang bus tujuan Metro. Ya memang betul ada tapi jam 4-5, kata petugas Damri itu.

Karena sampai sudah larut malam di Lampung dan kondisi terminal Rajabasa terlihat gelap, saya memutuskan percaya dan menuju pool Damri untuk ambil Damri tujuan esok hari.

Meski sebenarnya, petugas posko lebaran di terminal Rajabasa ada juga dan mereka sangat baik.

Namun untuk menghindari manipulasi harga — karena tidak dipublikasi/ada namun gue nggak ngeh dimana — . Saya memilih bertahan semalaman di pool Damri. Tapi pada pagi hari itulah waktu yang membuat saya tercengang dengan perlakuan pegawai di pool Damri. Seseorang yang tidak kami kenal, mengatur-atur lalulintas Damri tersebut.

Berlagak kayak petugas, apakah dia petugas? Kami tidak tahu. Tapi ia mengatur-atur penumpang. Kapan kami harus naik, kapan kami harus menunggu, dia serba tahu. Memang tidak menggunakan seragam, dan awalnya kami sempat curiga.

Lalu setelah mengatur kapan penumpang gaya baru malam harus naik, tibalah kedok mereka terbeongkar. Kami memang penumpang paling sedikit. Giliran kami dimanfaatkan sebagai sasaran mereka.

“Metro-metro metro, yang mau naik metro silahkan kedepan ada bus swasta,” kata orang itu.

Kami semua bergegas kedepan.

“Ayo pak naik sini saya ‘anterin’,” kata lelaki lain.

“Kami jalan aja pak, kan banyak orangnya”
“Ya satu-satulah”
“Lha emang jauh”
“Jauhlah kan diterminal”
“Lho emang Damrinya nggak ada”
“Nggak ada”
“Ayo naik aja, 10rb aja”
Kami saling pandang. ‘oh tukang ojek to mereka itu’
“Dah pak nggak jadi” kami pun yang saat itu ada sekitar 7 orang kembali lagi ke pool Damri.

Mereka tak protes dan tidak merayu, setelah beberapa saat mereka menawari Damri tujuan Metro.

“Yang mau Metro-metro ayo naik, itu Damrinya”
Berduyun-duyun kami mengejar Damri yang baru muncul karena disembunyikan. “Lho penuh pak”
“Ya emang gitu, yang mau Metro penuh, gabung sama Gaya Baru malam”
Aku terbengong-bengong, padahal tadi saat petugas Damri triak-triak jurusan Metro, Gayabaru dll, kami dibilangin bahwa nanti akan ada mobil khusus Metro sendiri. Petugas Damri terdiam. “Tadi Damri Metro mana?”
“Nggak ada, kalau nggak mau ini pilihannya swasta bus Penantian Malam” Pertanyaan kami adalah :
– Yang mana petugas Damri, dimana kejelasan bus tujuan Metro.
– Dimana petugas Damri, apakah hanya mereka. Disaat kami semua kebingungan dan bertanya-tanya tidak ada petugas Damri yang datang. Kami seolah dipaksa ngojek.
“Yang punya anak-anak kok nggak kasihan, kan hanya sekali,” kata petugas gadungan itu seperti memaksa kami.

Mereka tahu dengan kondisi psikologis kami yang kelelahan karena sudah 24jam diperjalanan dengan mudahnya dipermainkan. “Sialan” gue pikir.

Waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Dan kami pun dengan terpaksa harus menggunakan jasa mereka karena kami tahu anak-anak kami juga kelelahan.

Lucunya lagi, ketima kami sampai di terminal Rajabasa, disana ada banyak bus. Tapi kenapa hanya ‘Penantian Malam’ saja yang dicari padahal ada bus-bus lain yang juga bertujuan sama. Seolah-olah ada kerjasama terselubung disana.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: