jump to navigation

Banjir Jakarta bisa lebih Parah Juni 2, 2008

Posted by agusdd in lihat sekelilingku.
trackback

Pasang yang terjadi dalam kurun waktu terakhir akan terus meningkat seiring dengan pemanasan global. Dikusi yang cukup menarik akhir pekan lalu di gelar di Jakarta dengan tema yang cukup panas. World Bank melalui, Hongjoo Hahm, sebagai ahli infrastruktur World Bank ini memberikan saran kepada Jakarta agar segera melakukan pengerukan. Pasalnya diprediksi bahwa ini adalah cara terbaik untuk mengatasi melimpahnya air di Jakarta dengan kondisi yang permukaan tanahnya terus turun. Sementara itu juga dibarengi pembangunan yang meningkat dan lokasi penyerapan untuk air tanah semakin berkurang.

Situasi ini, ujar Hanjoo Hahm, membuat peningkatan air laut semakin signifikan dalam beberapa tahun mendatang. Belum lagi dengan prediksi para ilmuwan dimana mereka menyebut bahwa peningkatan air laut akan terus meningkat hingga 1,5 meter hingga 2100. ”Jika tidak ada antisipasi, akan banyak ibu kota di dunia ini yang tenggelam termasuk Jakarta,” paparnya.

”Ini baru mulai,” jelasnya menceritakan bagaimana akibat global warming tercatat peningkatan air laut di bibir permukaan tanah Jakarta terus meningkat dua inci pertahunnya. Bisa terjadi banjir yang terjadi November beberapa waktu lalu akan terulang kembali.

”Saya juga ingin mengingatkan bahwa pada Selasa dan Rabu, 3-4 Juni 2008, akan menjadi ajang tahunan siklus pasang surut 18 tahunan dimana kenaikan air bisa lebih dari 2 meter,” ujarnya.

Indonesia seperti dijelaskan oleh Risyana Sukarma, senior ahli infrastruktur bank Dunia, bahwa kepulauan Indonesia adalah yang paling besar, dimana sebagian besar bersentuhan dengan lautan luas. Ombat pasang surut ini menjadi semakin berbahaya jika muka air laut terus meningkat. Siklus 18 tahunan ini juga patut dicatat sebagai suatu fenomena alam dimana Matahari dan Bulan akan berada pada satu jarak terdekat dan mengalami gaya tarik langsung. Faktor lain yang juga bisa mempengaruhi posisi Indonesia cukup rentan sebagai negara kepulauan adalah pemanasan global, El Nino dan La Nina yang semuanya telah membuat laut lebih dahsyat dari sebelumnya.

Peningkatan muka air laut ini khususnya akan menghantam sisi pantai Jakarta yang sebelumnya juga telah dilanda banjir pasang surut (banjir tidal) beberapa waktu lalu. Para ahli juga mengatakan kontribusi perubahan besar dunia ini terjadi karena Indonesia juga berperan besar dalam menyumbang karbondioksida karena penggundulan hutan yang berlebih. Tapi mereka menggarisbawahai bahwa bukan banjir ini yang patut ditakuti atau paling berbahaya, namun perubahan iklim itulah yang harus diwaspadai.

Hahm menyarankan, ada baiknya pemerintah saat ini mempertimbangkan seperti apa yang dilakukan oleh Belanda untuk melindungi Jakarta. Tapi konsekuensinya adalah ini akan menghabiskan milyaran dolar.

Faktanya mengapa hal ini harus segera dilakukan bahwa ada sekitar 40 persen dari permukaan Ibu Kota Jakarta ini berada dibawah laut sekitar satu hingga satu setengah meter. Penambahan populasi yang berlebih, kepadatan yang tidak terhitung, pembangunan infrastruktur yang cepat, penghilangan sebagian besar daerah hijau ditambah punya musim hujan enam bulanan menjadikan Jakarta rawan banjir.

1. Jason-2 satellite: From its 1,338km-high circular orbit, the craft maps 95% of the world’s ice-free oceans’ topography every 10 days
2, GPS satellites: The system is used to track Jason-2’s position, ensuring very precise sea level height measurements
3. Sea height measurement via Poseidon-3 altimeter: The dual frequency radar signals are able to measure sea level height, wave height and surface wind speed
4. Sea surface topography: Variations in the height of the sea surface, when combined with measurements from other satellites and in-situ instruments, will allow scientists to improve weather and climate system models
5. Doppler Orbitography and Radiopositioning Integrated by Satellite (Doris) and laser ranging beacon: Ground stations ensure the precise positioning of Jason-2, which enables researchers to gather meaningful data from the satellite

Dan satu hal yang patut dijadikan pertimbangan penting adalah bahwa isu banjir di Jakarta ini sudah seringkali menjadi isu nasional. ”Setidaknya telah banyak kehilangan uang dan dampak lainnya yang serius,” paparnya. Bank Dunia sendiri dalam penanggulangan ini telah membantu usaha penggalian ke 13 sungai. ”Dengan harapan bahwa penggalian ini jika diteruskan akan bisa mengembalikan siklus banjir Jakarta setiap 25 tahunan,” ujar Risyana.

Menurut analisis yang dibuat Bank Dunia bekerja sama dengan Jan Jaap dari Delft Hydraulics, yaitu sebuah Institut Penelitian Bank Dunia, bahwa banjir yang sering terjadi di DKI Jakarta dan sekitarnya adalah dampak dari pemanfaatan tata guna lahan yang salah terhadap banjir dan fktor lain yang ikut memperparah adalah pembuangan sampah yang tidak terkoordinasi dengan baik di Jakarta.

Air Laut Masih Terus Naik Turun

Untuk mengukur kenaikan permukaan air laut yang lebih akurat, saat ini peneliti sudah mengembangkan generasi baru satelit khusus, Jason 2 sebagai pengganti Jason 1, yang diberinama Poseidon 3. Diterbangkan Februari lalu dengan ketinggian diatas 1300 kilometer, Poseidon 3 mengusung peralatan Jason-2, adalah alat yang dipakai untuk mengumpulkan data dengan keakuratan tinggi baik untuk cuaca, topan, dan perubahan iklim lautan.

Menggunakan Jason 2 ini, peneliti bisa mengukur topografi air laut baik itu ketinggian bukit maupun lembah. Data bisa dipastikan akan selalu baru setiap 10 hari sekali. ”Selain keakuratan yang tinggi pengukuran juga bisa dilakukan untuk peningkatan muka air laut secara global,” ujat Mikael Rattenbors, direktur operasi European Organisation for the Exploitation of Meteorological Satellites (Eumetsat). Dengan alat ini peneliti bisa meneliti tidak hanya pada peningkatan air laut yang terus terjadi namun juga model evolusinya.

Dalam 10 hari yang dimaksud, satelit ini dipastikan akan bisa memetakan hampir 95 persen seluruh permukaan lautan. Ini adalah sesuatu yang baru dibandingkan dengan teknologi survei kelautan sebelumnya. Sebagai alat pengamat, ujar Rattenbor, satelit ini juga menjadi alat penting yang akan melihat dan memetakan gejala lautan seperti efek El Nino.

Peneliti mengatakan bahwa sejak 18000 tahun yang lalu (Jaman es berakhir), muka air laut hingga sekarang telah meningkat 130 meter dan kebanyakan ini terjadi sebelum masa 6000 tahun yang lalu. Setelahnya antara 3000 tahun hingga abad ke 19 lalu muka air laut terlihat konstan dan baru mulai setelahnya kenaikan terjadi antara 0,1-0,2 mm/tahun. Tahun 1900 permukaan air laut ini justru meningkat 1-2 mm dalam setahunnya. Kemudian pada 1993 sebuah satelit yang diberinama TOPEX/Poseidon sebagai altimetri ruang angkasa berhasil mengukur bahwa kenaikan ini terjadi dengan angka 3.1 ± 0.7 mm dalam setahun.

Peneliti mengatakan bahwa permukaan air laut ini sejalan dengan berjalannya waktu terus mengalami fluktuasi. Pengukuran ini menjadi penting mengingat hasil penelitian sekarang banyak menyebut bahwa peningkatan ini terus dipercepat sepanjang tahun dengan adanya global warming. Menghangatnya suhu Bumi dituduh sebagai penyebab mencairnya es dan menyebabkan air laut meningkat.

Sebenarnya secara periodik, air laut ini sendiri juga terus berubah. Misalnya dalam fase atronomi dengan adanya pasang-surut, permukaan air laut membentuk selisih 0,2-10 meter dalam 12-24 jam. Akibat tekanan udara air laut membentuk selisih 0,7-1,3 meter, El Nino lebih dari 6 meter, perubahan temperatur 0,2 meter, dan untuk kejadian tsunami atau guguran tanah bisa mencapai 10 meter. Namun siklus naik turun atau pasang surut ini yang lebih disoroti adalah pada jangka panjang dimana dalam waktu ribuan tahun lalu, permukaan laut terus meningkat. Dalam kurun 20 tahun terakhir peningkatan ini lebih antar 0,2-0,4 mm/tahun.

Sumber

http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/COUNTRIES/EASTASIAPACIFICEXT/INDONESIAEXTN/0,,contentMDK:21730599~pagePK:141137~piPK:141127~theSitePK:226309,00.html

http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/6922312.stm

http://www.globalwarmingart.com/wiki/Wikipedia:Sea_level_rise

http://www.mediacenter.or.id/warning/14/tahun/2008/bulan/05/tanggal/30/id/3518/

http://maps.grida.no/go/graphic/estimated-contributions-to-sea-level-rise-1993-2003

http://www.celsias.com/2008/01/12/virtual-sea-level-rise/

http://www.msnbc.msn.com/id/24874599/

http://www.aztecsailing.co.uk/theory/ch2%20sect%202.html

Komentar»

1. gloria - Agustus 30, 2008

kayanya ga cuma karna pemanasan global aja tapi juga pengalihan lahan yang semestinya jadi daerah resapan air dijadiin lahan bisnis!! itu lebih gila lagi tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. ga cuma cari cara bagaimana mengurangi pemanasan global. tapi cara nya merubah mind set manusia nya itu sendiri untuk lebih sadar sama lingkungan nya. itu menjadi hal yang juga perlu diperhatikan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: