jump to navigation

Metabolime Bakteri Untuk Pembangkit Listrik Maret 30, 2008

Posted by agusdd in energi, lingkungan, science.
trackback

Perkembangan ilmu memang tidak disangka-sangka, gagasan yang mulai tahun 1999 dikatakan bahwa bakteri bisa menghasilkan listrik, kini oleh ilmuwan mulai diwujudkan menjadi kenyataan. Mulanya pada 2003, ilmuwan asal Belgia, Korneel Rabaey, Willy Verstraete dan tim lain dari University of Ghent, sangat optimis bahwa bakteri bisa menghasilkan elektron dan langsung ditransfer. Hanya dengan sedikit olahan sirkuit berikut dengan pilihan katode seperti apa yang dipakai, bakteri yang diuji terbukti bisa mereduksi oksigen dan mengubahnya menjadi air.

Keoptimisan ini menjadi pupus, karena masih kurangnya literatur yang menyangkut penelitian bakteri ini. Namun tim berhasil menguji, anode dan katode yang dipakai bisa memproduksi listrik hingga lebih dari 4,31 watt per meter persegi permukaan elektrode (664 mV, 30.9 mA). ”Kami memulai ini dengan teori yang mengemukakan bahwa bakteri bisa menjadi listrik, ternyata elektrode menjadi kunci penemuan ini,” ujar Korneel Rabaey.

Kini di tahun 2008, pada 29 Februari lalu, Profesor Peter Girguis seorang pakar mikrobiologi dari Universitas Harvard mempublikasikan bahwa ia telah berhasil membuat model fuel cell pembangkit bakteri. Model pembangkit ini telah diuji dalam laboratorium dan saat ini sudah bisa dipakai untuk menyalakan lampu LED dan mengisi baterai ponsel. ”Ini penemuan yang mengagumkan dan era perkembangan teknologi diyakini akan terus meningkatkannya,” ujarnya. Dimasa depan sumber listrik ini diharapkan bisa menjadi solusi baru dimana listrik berasal dari bakteri.

Kelebihannya adalah dengan begitu listrik dapat menyala secara terus menerus. Kelebihan ini akan menjadi sumber energi baru listrik masa kini ditandai dengan penemuan-penemuan ahli fisika yang mengatakan bahwa lampu LED dimasa mendatang bisa menyala lebih dari 100 ribu jam.

Girguis dan Rabaey sepakat, daya listrik yang dibangkitkan saat ini memang terukur masih sangat kecil. Namun teknologi ini sudah dianggap cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan energi listrik paling pokok, yaitu alat telekomunikasi.

“Sel pembangkit listrik bakteri yang pertama, dibuat dari mikroba yang dikembang-biakan di laboratorium,” ujar Girguis. Para peneliti membutanya dengan mencampurkan bahan kimia agar bakteri melepaskan elektron. Bahan kimia ini mahal dan kadang-kadang beracun. Selain itu uji cobanya juga dirasa sangat rumit karena memerlukan persyaratan tertentu. Misalnya semua harus diaduk rata dengan teliti pada suhu konstan 25 derajat Celsius. ”Uji seperti ini, selain mahal juga perlu kerja intensif,“ jelasnya. Karena itu sejak tiga tahun terakhir, Girguis mencari alternatif bakteri yang langsung bisa dikembangkan di alam.

Dalam penelitian tersebut, tim Harvad menemukan bakteri yang dikatakan unik. ”Mereka (bakteri) adalah bakteri anaerob,” jelasnya. Dalam menjalankan proses kehidupan, bakteri jenis ini, melepaskan elektron dari hasil metabolismenya. Oleh peneliti kemudian metabolisme inilah yang dipakai untuk membangkitkan sumber energi listrik.

Peter Girguis mengatakan bakteri ini berbeda dari yang dulu. Bakteri sangat mudah ditemukan dialam dan jumlahnya terbilang melimpah. Bakteri yang dimaksud adalah yang hidup dari unsur logam, belerang atau gas methan.

“Kami menemukan apa yang disebut bakteri bumi yang memakan logam. Bakteri ini memberikan kontribusi amat besar bagi produksi listrik. Kami juga menemukan bakteri lainnya yang hidup dari unsur belerang. Banyak jenis bakteri yang kami temukan belum punya nama, karena belum pernah dibiakkan di laboratorium. Saya perkirakan 99,9 persen mikroorganisme yang ada di dunia belum punya nama, bahwa mikroorganisme itu eksis kita hanya tahu meraka ada alam,” ujarnya.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: