jump to navigation

Energi Pilihan yang Terabaikan Januari 9, 2008

Posted by agusdd in energi.
trackback

Terdapat 62 jenis tanaman Indonesia yang bisa diproses untuk mendulang minyak terbaharukan

Blueprint pengelolaan energi nasional 2005-2025 dari Departemen Energi Sumber Daya Mineral 2005 memperlihatkan bahwa potensi tanah air terhadap cadangan kebutuhan energi tidaklah sebanding dengan kebutuhan. Tercatat bahwa produksi minyak mentah kini telah lebih kecil dari kapasitas produksi pengolahan minyak.

Pada 2010 diperkirakan produksi minyak mentah hanya mampu mencapai angka sekitar 1,050 juta barel per hari. Ini pun sudah menambah jumlah yang diharapkan dari lapangan baru termasuk blok Cepu yang akan mulai beroperasi pada 2008. Jika tepat sesuai prediksi bahwa kebutuhan biofuel pada 2010 mencapai 1,62 juta barel per hari, setara dengan 2 juta barel minyak mentah per hari, maka sudah barang tentu pada tahun ini, Indonesia akan defisit mencapai satu juta barel.

Peneliti dari Pusat Penelitian Kimia LIPI, Heru Haerudin menyebutkan bahwa sudah banyak teknologi Indonesia yang berhasil menguak kandungan tanaman hayati dengan potensi energi. mulai dari jagung, kelapa sawit, jarak, nipah, aren sampai algae. Totalnya ada 62 jenis. Masing-masing berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi energi alternatif, ramah lingkungan dan terbaharuskan.

”Dibanding menjualnya mentah atau produk biasa, dengan pengolahan dan memberi nilai tambah produk ekonomi rakyat ini bisa menjadi lebih bernilai ekonomi,” katanya.

Pertimbangan yang perlu dipikirkan adalah Indonesia telah menjadi negara importir besar di bidang energi. sebagai pembanding bahwa India dan China dikatakan mungkin hanya akan mengimpor dibawah 10 persen, tetapi Indonesia pada 2008, diprediksi sudah mencapai 40 persen. ”Energi kita masih sangat tergantung pada energi fosil sehingga makin membumbungnya subsidi,” katanya. Ini terjadi karena belum dimilikinya kebijakan dan strategi energi jangka panjang. Ditambah lagi penelitian energi alternatif khususnya bioenergi belum ditempatkan sebagai faktor utama energi masa depan.

Peneliti dari Laboratorium Teknik Konversi Energi Surya Universitas Darma Persada, Kamaruddin Abdullah menyebutkan dalam Kongres Ilmu Pengetahuan Indonesia ke IX bahwa pada dasarnya setiap desa di Indonesia umumnya sudah mempunyai sumber energi terbaharukan (SET). ”Energi ini muncul dalam bentuk surya, biomassa, mikro hidro dan angin,” katanya.

Jika memang dimanfaatkan dengan baik, maka desa mandiri energi dengan mudah bisa dibuat. Dalam sekala kecil, SET sendiri sudah bisa menghidupi unit pengolahan skala kecil (UPSK) di pedesaaan misalnya seperti untuk keperluan pengepakan, bengkel-bengkel, kios dan lain-lain.

Contoh penerapan UPSK yang menurut Kamaruddin berhasil dan termasuk relatif berkembang adalah pemanfaatan pengering surya ERK untuk mengolah dendeng jantung pisang di Koperasi barrak Cimahi, pengering surya tipe lorong yang dimodifikasi untuk pengering serta alam oleh swasta di magelang dan UPSK pengolahan kopi di Batudulang, Sumbawa.

Satu hal yang menarik dan menurut Heru bisa dijadikan solusi sumber energi terbaharukan adalah tanaman jagung yang bisa menghasilkan 300 gallon etanol per tahun per hektar. Tanaman seperti ini, bisa menjadi unggulan karena bisa diproduksi setiap musim panen. ”Sama juga untuk kedelai yang bisa menghasilkan 60 gallon tiap musim tanam, sawit yang bsia menghasilkan 1100 gallon tiap tahun dan lainnya,” katanya. Potensi paling besar secara teoritis adalah algae. Disini ada sumber minyak sampai 3000 gallon per tahun untuk setiap hektarnya. Padahal jenis algae ini dapat terus dipanen setiap hari tanpa perlu pemupukan. ”Kuncinya hanya ada pada air pantai yang sehat dan sinar matahari yang cukup,” katanya.

Menurutnya bahwa sumber daya energi hayati dapat di peras untuk mendapatkan minyak. Caranya yaitu dengan memanfaatkan pemrosesan serta ekstraksi kimia dan katalitik. Rata-rata karbohidrat yang tinggi dari pati dan gula dapat diubah menjadi asam karboksilat dan juga alkohol. Tentunya dengan beragam tanaman yang ada di tanah air, sungguh besar sumber minyak energi terbaharukan yang bisa di peroleh, lalu buat apa mengimpor.

Komentar»

1. cie maniez - Januari 10, 2008

kadang-kadang para ahli ekonomi dan ilmuan perlu ketemu ya, biar bisa cari jalan keluar. capek dengar ada solusi ada solusi, tapi no action. hehehe, kalo pun action separuh-separuh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: