jump to navigation

Jangan Buang Bekas Lampu Sembarangan Januari 8, 2008

Posted by agusdd in lingkungan, science.
trackback

Hayoo lo…

tau g..? Merkuri tidak terurai menjadi senyawa lain atau terdegradasi dan hancur bersama tanah. awas bisa bahaya lo kalo buang bahan yang terbuat dari merkuri sembarangan, iya kan…

Hampir setiap hari kita bersingungan dengan listrik. Terangnya cahaya lampu yang berwarna-warni, hiruk pikuknya sinetron dengan warna televisi atau remang-remangnya kamar tidur dari nyala lampu pijar. Setiap hari selalu saja aktivitas lampu berulang mulai dari dinyalakan, berpijar lalu dimatikan. Jika sudah aus dan mati, dengan cepat langsung diganti. Tapi kemanakah lampu yang mati itu dibuang?

”Jangan sembarangan membuang bekas lampu itu,” pesan Dr David Spurgeon, Ahli toksikologi dan lingkungan di Amerika. Pesan tersebut berlaku umum baik untuk Indonesia atau masyarakat dunia. Pasalnya dalam lampu pijar dan lampu hemat energi ini terdapat kandungan unsur kimia yang berbahaya, yaitu merkuri.

 

Pengukuran yang dilakukan kandungan di lampu hemat energi, memang terdapat dalam jumlah kecil. Ahli racun, Dr David Ray dari Nottingham mengatakan kandungan 6-8 mg Mercury berada dalam lampu jenis low-energy bulb. ”Itu saya peringatkan karena mercury adalah limbah beracun,” katanya. Salah memperlakukannya maka masalah yang bisa dimungkinkan adalah mereka bisa dilepaskan ke udara atau mungkin tertanam di dalam tanah.

Pihak ahli lingkungan juga mengatakan jangan sembarangan saja membuang pecahan lampu. Selain pecahan yang ada dapat melukai, merkuri yang dimaksud jika telah kembali ke alam maka hanya akan berputar-putar saja dalam siklusnya.

Ray mengatakan jika merkuri telah terlepas ke alam, maka dalam siklusnya hanya akan berputar-putar hingga menempuk pada lemak. Pasalnya jenis merkuri ini tidak larut dalam air. ”Meski bisa dibuang melalui air seni, namun hanya sebagian kecil,” katanya. Selebihnya merkuri yang ada menumpuk didalam tubuh bersama dengan darah, lemak dan dibagian jaringan lain. Merkui juga sangat mengancam karena bisa menyebabkan keracunan jika menumpuk terlalu banyak dalam darah.

Peneliti Fakultas MIPA Universitas Indonesia, Arry Yanuar mengatakan merkuri menjadi unik karena memiliki tiga bentuk, yakni unsur logamnya, garam merkuri dan merkuri organik. Saat menjadi logam, pada suhu kamar merkuri tidak berbahaya dan berada dalam wujud cair seperti air. Namun kadar tidak berbahayanya ini jika satu atau dua tetes saja mengenai manusia maka ancamannya adalah kematian.

Diceritakan bagaimana Prof. Karen E. Wetterhahn, seorang speasialis logam beracun dari Dartmouth College Chemistry, Amerika Serikat, meninggal pada tahun 1997 karena penelitian merkurinya. Sungguh sangat ironis, meski seorang ahli logam yang notabene percobaan dalam laboratorium menggunakan sarung tangan dan pengamanan khusus tetapi tetap saja tercemari oleh merkuri. Dalam jumlah kecil merkuri ini dapat menyebabkan gatal-gatal, badan iritasi, kejang-kejang, pandangan kabur hingga kerusakan saraf. Lebih berbahaya lagi jika merkuri ini menjadi dimethilmerkuri, maka sifat racunnya bisa berlipat-lipat.

Disarankan saat lampu pecah, diharapkan satu ruangan yang berhubungan langsung dengan pecahan lampu segera dikosongkan dalam 15 menit. Model pembersihannya pun tidak diperbolehkan menggunakan vacum cleaner. Lebih baik jika pembersihan dilakukan dengan mengumpulkan bekas pecahan ke dalam platik. Langkah selanjutnya adalah membuang plastik ini untuk dihancurkan dalam suatu tabung masal oleh pemerintah setempat. Sementara untuk lampu yang tidak rusak dapat dikembalikan ke penjual untuk dibuang melalui ditributor dan kemudian dihancurkan oleh perusahaan besar.

Tetapi di Indonesia mekanisme seperti ini belum banyak ditawarkan oleh pengusaha maupun pemerintah. Kebanyakan masyarakat, masih mengumpulkan pecahan lampu dan membuangnya sembarangan. Lalu kemana merkuri tersebut terbuang? Arry menjawab, sudah tentu merkuri yang terbuang tersebut terpendam ke tanah, mengalir ke air, terendapkan dan tersiklus dalam suatu tempat yang akan menjadi bom waktu bagi siapa saja.

Komentar»

1. arif - Februari 26, 2008

Kalau boleh tahu untuk menetrallisir kadar merkuri bagaimana. apakah ada media yang dapat menetralkannya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: