jump to navigation

Menata Merah Putih dari Langit Agustus 14, 2007

Posted by agusdd in science.
trackback

 

 

 


Lapan TUBSAT dapat memantau kepulauan Indonesia selama 10 menit dari ketinggian 630 kilometer

Keberhasilan Indonesia memijak ke masa teknologi baru adalah dengan hadirnya satelit mikro buatan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN TUBSAT). Setelah dirancang sejak 2005 dan mengalami penundaan penerbangan satu tahun, tepatnya 10 Januari 2007 lalu, satelit ini berhasil mengorbit di lintasannya pada ketinggian 630 kilometer.Satelit ini dilihat dari desain rancangnya hampir mirip dengan model satelit-satelit lain pada umumnya. Seperti perangkat baterai, panel surya, dan perangkat elektronik yang menjadi otak program pengolahan dan pengiriman data. Fasilitas yang diusung antara lain dua buah kamera yang berfungsi untuk mengambil gambar dan video. ”Namanya juga satelit mikro, tidak begitu komplit dan fasilitasnya sangat sederhana,” kata Deputi Bidang Teknologi Dirgantara LAPAN Dr Ing Soewarto Hardienata. Berat total satelit hanya 57 kilogram.

Soewarta menuturkan sangat bangga sekali Indonesia berhasil menciptakan satelit buatan bangsa sendiri. Dengan teknologi yang cukup sederhana namun hasilnya dikatakan sangat luar biasa. Proyek satelit mikro ini disetujui pada tahun 2003, dengan anggaran yang sangat minim, satelit akan dapat difungsikan untuk pemantauan langsung situasi di bumi nusantara seperti kebakaran hutan, gunung berapi, banjir, menyimpan dan meneruskan pesan komunikasi di wilayah Indonesia, serta untuk misi komunikasi bergerak.

Hasilnya setelah enam bulan resmi terbang menempati orbitnya, sungguh sangat mengejutkan. Tak hanya para insiyur dalam negeri yang membuatnya, namun ilmuwan dan pihak asingpun turut kagum ketika hasil penciteraan tersebut dipresentasikan. ”Kamera satelit mampu bekerja sesuai perkiraan,” kata Wahyudi hasbi, peneliti pusat teknologi kedirgantaraan LAPAN yang juga menjadi tim teknisi satelit Tubsat Lapan.

Kamera pertama mampu menghasilkan gambar beresolusi rendah dengan daya pisah 200 meter dengan daya cakupan 81 kilometer, sedang pada resolusi tinggi gambar mampu menghasilkan daya pisah objek hingga 5 meter dengan luas sapuan 31 kilometer. ”Untuk mengamati kapal tanki, sebuah bangunan, gunung mupun kota seperti Jakarta bisa sangat jelas diamatai. Sehingga pengharapan menjadikan satelit tersebut sebagai alat surveilance (pengawas) dari langit cukup memungkinkan,” kata Wahyudi.

Wahyudi menceritakan masa uji coba satelit telah dilewati. Pasca peluncurannya enam bulan lalu, hingga kini stasiun pengendali di bumi telah berhasil mengoperasionalkan tugas-tugas pemotretan setiap objek yang dilewatinya. Gambar-gambar menarik yang berhasil di potret antara lain jembatan Suramadu, Gunung Bromo, Gunung Merapi, Pantai Kuta, Monas, Bandara Cengkareng, Reklamasi Pulau Singapura, Kota Jakarta dan lain-lain.

Lapan Tubsat sepenuhnya, dapat dikendalikan dari Indonesia berdasarkan perintah-perintah yang dikendalikan oleh para teknisi. Selain untuk mengambil data gambar suatu titik, satelit beberapa kali juga diuji cobakan untuk pengambilan video. Gambaran video tersebut dapat mengambil posisi selama durasi melintasi area pantau stasiun bumi yang ada di Indonesia. Untuk saat ini, menurut Wahyudi, baru dapat dikendalikan dari Stasiun Rumpin di Banten. Sementara stasiun bumi yang berada di Bogor hanya befungsi sementara untuk back up (cadangan).

”Inilah keterbatasan kami, untuk memantau area yang luas kami membutuhkan stasiun bumi yang lebih banyak,” katanya. Stasiun Rumpin, kini hanya mampu memonitor satelit saat melintasi titik terutama yang terfokus di Jawa dan Bali termasuk beberapa Sumatera, sedangkan saat posisinya terlalu menyudut, perintah dari bumi tidak dapat dieksekusi, semisal untuk memantau Aceh, Maluku, atau Jayapura. Sehingga untuk kedepannya, beberapa setasiun dapat dibangun seperti di Sabang (untuk wilayah Sumatera) dan Biak di Pulau Papua (untuk memantau wilayah Timur Indonesia).

Selain di Indonesia, stasiun pemantau satelit juga terdapat di Berlin dan Kutub. Beberapa kali stasiun di berlin juga menggunakan satelit Tubsat untuk mengambil gambar-gambar negara lain semisal Jerman. Sedangkan setasiun kedua yangberada di Kutub Utara berfungsi untuk memantau kondisi satelit. ”Kami menyebutnya untuk memantau kesehatan satelit agar dapat selalu digunakan,” kata Wahyudi.

Komentar»

1. Syamsul Arifin - November 29, 2007

please,i ask you about how to know the period of earth presetion?

2. agusdd - Desember 1, 2007

presetion tuh apa ya..?
samakah dengan ketepatan atau yang dimaksudkan adalah perputaran bumi. wah agak repot yah melihatnya. yang aku tahu pernah diukur menggunakan suatu alat yang diletakkan di satelit. namanya aku juga lupa. dah aku cari-cari tapi g ketemu. alat ini kemudian posisinya di tepatkan dengan suatu bintang di galaksi X yang sangat jauh sekali sehingga dengan asumsi sudut o hingga bintang ini dianggap bintang tetap dan tidak bergerak. dari situ kita bsia mengetahui pergerakan bumi termasuk kemiringannya setiap waktu juga termasuk mengukur gerakan satelit.

lihat situs ini http://langitselatan.com/2007/04/21/bagaimana-membuktikan-bahwa-bumi-mengelilingi-matahari-dan-bukan-sebaliknya/

memang agak berbeda, untuk bacaan aja


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: