jump to navigation

Gempa Seperti Teka-Teki Agustus 14, 2007

Posted by agusdd in science.
trackback

Kepulauan Indonesia terbentuk karena bertemunya dua lempeng dan menjadikan daratannya rawan terhadap gempa

Berpandangan gempa terjadi terus-menerus di Indonesia orang pasti akan bingung, ada apa dan mengapa. Secara religi, banyak yang menafsirkan bahwa perubahan ini terjadi karena kebudayaan manusia yang telah banyak berubah sehingga menyebabkan keseimbangan alam tidak normal lagi, akibatnya Tuhan menegur manusia. Namun dari segi ilmu pengetahuan, hal tersebut ternyata tidak ada masalah dan menurut para ilmuwan fenomena alam tersebut sudah terjadi sejak jutaan tahun lalu.

Menilik sejarah bumi, yang digelar dalam diskusi ilmiah geologi serta seminar-seminar yang membahas masalah lumpur Sidoarjo beberapa bulan lalu banyak dikemukakan, bahwa pulau Jawa adalah pulau termuda yang baru terbentuk 50-40 juta tahun lalu. Pulau ini terbentuk dari endapan laut yang terangkat dan karena benturan antara lempeng Austalia dengan Eurasia. Maka terbentuklah kepulauan Indonesia seperti yang dilihat saat ini pada lima juta tahun yang lalu.

Diantara dua lempeng besar ini, menurut Heri Harjono, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ada lempeng permukaan yang disebut dengan intra plate. Patahan-patahan ini antara lain seperti patahan Opak, Patahan Grindulu, Patahan Cimandiri, patahan Lembang dan beberapa patahan kecil lainnya.

”Beberapa kali patahan-patahan ini sempat menimbulkan gempa dan terakhir misalnya patahan Opak yang menyebabkan gempa Jogja,” kata Heri. Sementara patahan Cimandiri yang terbentang dari Palabuhan Ratu-Sukabumi-Cianjur hingga Padalarang tercatat memunculkan banyak rekaman gempa pada tahun 1900, 1910, dan terakhir pada 2001 lalu. ”Banyak rekaman gempa disini tapi tidak ada yang bisa memprediksi kapan gempa selanjutnya akan terjadi,” katanya.

Perbedaan antara lempeng intra plate dan lempeng dua benua pembentuk kepulauan Indonesia adalah pada besarnya gempa yang dimunculkan. Contohnya pada kamis (9/8) dini hari lalu, gempa yang terjadi dirasakan hampir disebagian besar pulau Jawa. Bahkan Malaysia dan Aceh pun diberitakan ikut merasakan gempa tersebut, namun kebenaran tersebut masih perlu diteliti.

Secara teori berdasarkan bentukan lempeng, getaran gempa pada permukaan intra plate memang hanya dirasakan pada permukaan lokal. Sementara pada gempa karena gerakan lempeng benua, hampir sebagian besar yang berada diatasnya akan merasakan getaran tersebut. ”Lempeng ini menembus hingga di kedalaman 600 kilometer dan pusat gempa pada minggu lalu berada hampir di 300-an kilometer, sementara intra plate hanya berada di permukaan saja,” ujarnya.

Heri menuturkan, adanya gempa jangan terlalu dibuat panik dan jangan menanggapi isu yang dulu pernah menyebutkan bahwa pada waktu-waktu tertentu pulau Jawa akan bertabrakan dengan lempeng Indo-Australia dan Eurasia. ”Sejak puluhan juta tahun lalu, dua lempen ini telah bertabrakan,” ungkapnya.

Peta seismik menunjukkan pergerakan lempeng Australia menabrak pulau Jawa diperkirakan setiap tahunnya mencapai 6-7 sentimeter. Diperkirakan jumlah gempa yang terjadi setiap harinya paling seidkit adalah dua getaran gempa dan bahkan bisa lebih dari 10 atau 12 getaran gempa perhari. Namun gempa-gempa tersebut sekalanya sangat kecil dan tidak mungkin dirasakan oleh manusia. Biasanya rata-rata skala magnitudnya kurang dari 5 Skala Richter.

Suharjono, Kepala Pusat Gempa Nasional Badan Meteorologi dan Geofisika menuturkan gempa di kepulauan Indonesia pun sangat bervariasi. Meski pada umumnya gempa-gempa terjadi mencapai belasan kali perhari, namun mulai dari sisi Barat ke Timur terdapat perbedaan kedalaman gempa.

Dibatasi oleh Selat Sunda ke bagian barat, gempa kebanyakan terjadi pada kedalaman kurang dari 69 kilometer. Umumnya gempa ini cukup dirasakan dan berefek cukup besar. Peta persebaran gempa ini memanjang hingga ke sisi Jawa bagian selatan. Sementara di pulau Jawa bagian Utara hingga ke Timur dan perbatasan Maluku, Sulawesi, Ambalat, hingga ke Filipina gempa banyak terjadi pada kedalaman 300-700 kilometer.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: